Jumat, 28 Januari 2011

MA NURUL AZHAR BANGUN MENTAL SISWA SIAP LAHIR-BATIN

Barangkali hanya MA Nurul Azhar sebuah sekolahan yang dibangun dengan visi yang kuat lepas dari provit oriented. Komitmen itu bukan hanya promosi tatkala sekolahan ini baru didirikan saja,
tetapi sampai saat inipun para siswa bisa belajar dengan hanya berbekal kemauan. Apalagi bagi anak-anak miskin, dijamin akan memperoleh keringanan khusus bahkan sampai gratis. Karena dari sejak awal misi dari pendirinya adalah membantu pendidikan anak yang tidak mampu, maka jumlah siswanyapun juga dibatasi hanya satu lokal setiap kelasnya.
Berawal dari ide seorang pengusaha Sutoyo, pria asli Simo yang kini berdomisili di Surabaya, Madrasah Aliyah Nurul Azhar didirikan untuk memberikan pendidikan yang memadai bagi siswa tidak mampu pada Tahun 2001. Kemudian pada tahun 2002, tepatnya tangal 15 Juli sekolahan ini dibuka.  
Konsep awal dari pendiri adalah mewadahi calon siswa potensial di Simo dan sekitarnya. Karena pada prinsipnya harus ada terobosan agar masyarakat miskin harus juga berpendidikan untuk memperbaiki taraf hidup mereka. Tatkala itu pendidikan setingkat SLTA begitu mahal dan mewah, maka hanya sedikit masyarakat kurang mampu memperoleh kesempatan untuk bersekolah.
Maka diawal berdirinya, mulai pembangunan sarana dan prasarana sekolah dicukupi oleh seorang Sutoyo sendirian secara pribadi. Bahkan untuk urusan karyawan dan gaji guru juga ditanggung sepenuhnya. Tidak sampai disitu, gaji guru di MA Nurul Azhar sampai lima kali lipat guru yang mengajar disekolahan lain. Maka proses rekruitmenpun dilaksanakan dengan ketat untuk menghasilkan guru-guru yang berkwalitas. Walhasil perlahan tapi pasti prestasi demi prestasi mulai ditorehkan oleh sekolahan MA Nurul Azhar.
Kini MA Nurul Azhar diusianya yang masih relatif muda telah banyak memberikan peran yang cukup bagus, baik prestasi akademis maupun bagi masyarakat lingkungannya. Prestasi akademik antara lain rangking lima besar Olimpiade Teknik Komputer Tingkat Kabupaten Th. 2005; Juara 2 Olimpiade IPS Antar MA Beregu Tingkat Kabupaten; dan prestasi lain ditingkat yang lebih rendah.
Sedangakan peran sekolahan pada masyarakat antara lain, mewadahi siswa yang tidak mampu untuk bisa sekolah di MA Nurul Azhar, menyediakan asrama yang dipadukan menjadi sebuah Pondok Pesantren, ikut partisipasi dalam keseluruhan kegiatan masyarakat baik kegiatan pemerintahan maupun masyarakat sekitar yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan drumband, paskibraka, kesenian hadroh, dan kegiatan sosial lainnya.
Walau status MA Nurul Azhar masih terakreditasi B, namun peran mereka sebenarnya sangat nyata dan menyentuh masyarakat sekitar. Siswa disekolahan ini dididik menjadi manusia yang bertanggung jawab dan memiliki kompetensi tinggi dalam hal kemandirian.
“Barangkali yang dianggap kurang adalah gedung yang hanya tiga lokal. Padahal prinsip kami adalah mencetak siswa yang berkualitas, walau dengan latar belakang dari keluarga tidak mampu,” ujar Edris, S.Ag., Kasek MA Nurul Azhar.
Kemandirian sekolahan seperti MA Nurul Azhar sangat langka, biasanya sekolahan yang berdiri masih mengandalkan biaya dari pemerintah. Untuk itu, mereka berlomba-lomba merekrut siswa sebanyak mungkin. Namun sebaliknya, Nurul Azhar justru membatasi siswa yang masuk demi kualitas.
Untuk pondok pesantren, walaupun prinsip-prinsip modern diterapkan dalam kurikulum MA Nurul Azhar, namun di asrama atau ponpes siswa diberikan pelajaran sebagaimana ponpes tradisional, seperti pembahasan kitab kuning. Ponpes Nurul Azhar yang sebenarnya semula adalah asrama kini mulai Maret Tahun 2006 telah terdaftar menjadi sebuah pondok pesantren.
Ponpes Nurul Azhar memiliki fasilitas asrama putra dan putri yang terpisah. Pengasuhnya juga lulusan yang kredibel, dari Gontor. Bagi siswa yang bertempat tinggal jauh atau memang ingin menambah ilmu keagamaan, sebaiknya tinggal di ponpes. Bud/Him/Adv.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar