Jumat, 28 Januari 2011

WALAU ADA KECENDERUNGAN MENURUN, ANGKA GIZI BURUK DI JAWA TIMUR MASIH TINGGI


Persoalan gizi buruk pada balita menjadi sorotan utama dalam pemerintahan Gubernur Soekarwo. Hal itu terungkap dalam acara Monitoring dan Evaluasi Penanggulangan Gizi Buruk oleh Penggerak PKK Propinsi Jawa Timur di Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi yang dihadiri oleh Ibu Nina Soekarwo.
Dalam kesempatan tersebut Ny. Nina Soekarwo menyatakan, bahwa kemiskinan bukan faktor utama yang mempengaruhi tingkat gizi buruk. Faktor utama gizi buruk persoalan pola hidup atau perilaku. Dijelaskan lebih jauh, bahwa masyarakat kita memiliki perilaku yang kurang memperhatikan gizi anak-anak. Sehingga dari tahun ketahun persoalan gizi buruk tetap menjadi persoalan yang serius.
Persoalan kedua adalah faktor kesehatan anak. Apabila anak sering sakit-sakitan dan sering terserang penyakit, maka asupan gizi tidak bisa dicerna dengan maksimal. Di samping itu, anak yang sakit tidak mampu makan dengan baik, mulai nafsu makan berkurang dst.
Sedangkan faktor yang berpengaruh ketiga adalah tingkat kemiskinan masyarakat. Kemampuan masyarakat miskin untuk membiayai hidupnya menjadikan masyarakat kelompok ini sulit untuk memenuhi gizinya. Namun demikian kemiskinan menjadi pemicu keadaan gizi buruk hanya sekitar 25 %. Dengan demikian, menurut data yang dipaparkan oleh Ny. Nina Soekarwo ini hal utama yang harus dibenahi dalam menangani kasus gizi buruk ini adalah masalah kesalahan pola asuh yang mencapai 40 % dari kasus gizi buruk.
Dalam acara yang dipusatkan di kantor Kecamatan Paron ini, Ny. Nina Soekarwo sempat beramah tamah dengan sejumlah ibu hamil. Dalam percakapannya dengan beberapa ibu hamil ini, berpesan bahwa masalah gizi buruk balita berawal dari masa kehamilan. Untuk itu pemenuhan gizi para ibu hamil ini juga harus menjadi perhatian utama.
Dalam kaitannya dengan hal itu, agar kasus gizi buruk tersebut bisa ditangani dengan cepat, diharap masyarakat segera melaporkan apabila menemukan kasus-kasus kepada petugas terdekat. Di samping kegiatan posyandu yang harus terus digalang keberadaannya guna mendeteksi seara dini kasus gizi pada para balita.Bud/kahim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar