Jumat, 28 Januari 2011

TERNINAL NGAWI, BARU SATU TAHUN PAVING RUSAK BERAT

Beruntung Ngawi memiliki terminal yang sangat megah dengan status Type A, artinya setiap kendaraan penumpang utamanya armada bus wajib untuk masuk terminal. Sekedar mengingatkan pembaca pembangunan terminal tersebut sempat menuai protes dan polemik yang sangat panjang dari berbagai kalangan. Bagi sebagian masyarakat proyek tersebut dianggap bombastis, namun oleh pemerintah kabupaten saat itu, proyek ini dianggap visioner karena akan membawa Kabupaten Ngawi siap menghadapi pembangunan jalan tol yang telah jadi proyek nasional. Asumsinya, dengan kewajiban armada bis wajib masuk Terminal Kertonegoro, maka ada keuntungan ekonomis yang bisa mampir pada masyarakat Ngawi, di samping citra positif bagi perkembangan Ngawi di masa akan datang.
Namun ternyata persoalan pemeliharaan (maintenance) sebuah bangunan tidak kalah rumit dan beratnya dengan membangun. Sebuah bangunan dengan nilai puluhan milyar rupiah harus disertai dengan konsep pemeliharaan yang tepat dan anggaran tidak sedikit, apabila tidak ingin bangunan tersebut cepat rusak dan mubazir.
Demikian itu persoalan yang menimpa Terninal Kertonegoro, belum genap satu tahun sejumlah bangunan mulai rusak dan tidak terurus. Paving jalan bus AKDP (angkutan Kota Dalam Propinsi dan AKAP (Angkutan Kota Antar Propinsi) mulai menyembul keluar dengan kubangan hampir 50 cm dibebrapa titik. Diakui Moch. Subandi Kepala Terminal Ngawi, ia tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi masalah tersebut. kondisi fisik terminal saat ini sangat parah. Dibeberapa titik utamanya disetiap tikungan pasti terjadi kerusakan.
Sejak semula sudah ia prediksi bahwa kondisi jalan yang demikian tidak akan bertahan lama. “Teknis pembangunan jalan di Ngawi harus diperlakukan dengan cermat. Apalagi kendaraan yang melintas berupa bus-bus besar. Mestinya teknis membangunnya dibuat agak miring, sehingga beban bisa terkontrol dan tidak terjadi genangan,” jelas Moch. Subandi.
Masih menurut Subandi,  kedalaman urugan, dan tanah urug yang digunakan juga disinyalir kurang memadai, sehingga paving terminal mudah ambles. Untuk memperbaiki kondisi tersebut bisa menelan anggaran hingga miliaran rupiah. Padahal pada tahun 2010 lalu tidak ada jatah anggaran pemeliharaan.

Pemasukan Telah Memenuhi Target

Setahun terakhir, kondisi terminal Ngawi mulai menunjukkan aktifitas yang ramai. Setiap bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) dan AKDP (Antar Kota Dalam Propinsi) sudah masuk di terminal, walau hanya sambil lalu. Disamping itu, masyarakat juga telah memanfaatkan terminal, setiap akan naik bus sudah terbiasa menggunakan jasa terminal. Terlihat bahwa target yang dibebankan dari hasil pemasukan retribusi bus dan peron melampaui hingga 20 %. Kepala Terminal Ngawi Moch. Subandi yakin, apabila persoalan yang menyertai terminal ini dapat diselesaikan kondisi terminal akan semakin baik dan ramai.
Kita sering membuat aturan yang kontradiktif. Seharusnya semua bus dan kendaraan yang lain seperti minibus, angkota, harus masuk terminal. Disamping itu, pembuatan tempat-tempat peristirahatan, seperti bangunan kios di selatan terminal kontraproduktif dengan keberadaan terminal sendiri. Akhirnya minibus ngetem didekat tempat tersebut. Disamping menganggu lalu lintas juga merugikan keberadaan terminal. Fungsi ekonomis bagi masyarakat tidak terjadi.
“Bisa dibayangkan seandainya seluruh angkutan yang ada terpusat di terminal, maka kegiatan diterminal akan hidup. Seluruh fasilitas di terminal ini akan fungsional. Dengan demikian pemasukan juga menjadi besar. Kedaan sekarang lain, kendaraan hanya mampir sekedar lewat begitu saja,” jelas M. Subandi.
Semua pihak yang terkait harus memikirkan keadaan ini, apalagi kewenangan Dinas Perhubungan saat ini mulai berkurang, lanjutnya. Beberapa saat lalu ada aturan tilang setiap kendaraan yang menaikan-turunkan penumpang disembarang tempat. Namun kini sudah kendor lagi, karena kewenangan yang diberikan kepada Dinas Perhubungan tidak seperti dulu lagi.
“Budaya kita memang tidak taat aturan. Kalau kondisi ini tidak diperbaiki, sampai kapanpun terminal tidak akan pernah ramai. Terminal sebagai tempat transit penumpang tidak bisa berfungsi,” keluh M. Subandi
Menanggapi persoalan tingginya operasional dan pemeliharaan terminal Kertonegoro, Dwi Riyanto Jatmiko, Ketua DPRD Ngawi mengatakan, mencermati tentang fungsi Terminal Kertonegoro hanya sebatas satu sisi saja. Terminal ini visioner, perkembangan tata kota Ngawi kearah barat, masa yang akan datang akan memiliki prospek cerah . Di samping itu, keberadaan terminal ini juga bagian dari pembangunan Ngawi ada keterkaitan antara visi pembangunan tingkat propinsi dan pusat.
Ketika jalan tol nanti telah beroperasi, Ngawi tetap akan menjadi singgahan. Berbeda kalau Ngawi tidak memiliki terminal yang representatif yang wajib disinggahi oleh kendaraan umum, Kabupaten Ngawi hanya tempat lalu lalangnya kendaraan. Kita tidak memiliki nilai tambah. Lebih lanjut, Ketua DPRD dari Partai berlambang banteng ini juga menyatakan, fungsi terminal tidak hanya murni profit yang akan memberikan kontribusi pada PAD, tetapi juga memiliki fungsi strategis lainnya, yakni pelayanan  dan tempat kegiatan ekonomi warga. Jadi pemkab tetap akan menganggarkan pemeliharaannya. KohMin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar